Gempa Swarm Terus Terjadi,  BMKG Makassar Akan Pasang Sensor Gempa di Mamasa

MAMASA (Sulbar), Mediarestorasi.com – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Makassar, kembali menurunkan tim untuk melakukan survey lokasi pemasangan sensor gempabumi di Mamasa. Tim tersebut sudah berada di Mamasa sejak Rabu 19 Juni 2019.

Sesuai keterangan PMG Muda BBMKG Wilayah IV Makassar, Muh. Imran Tahir, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Mamasa lewat BPBD untuk melakukan pengukuran di beberapa tempat untuk melihat kesesuaian dari aspek geologi dan seismologinya.

“Dengan terpasangnya sensor gempabumi permanen di Mamasa diharapkan gempa-gempa disekitar Mamasa dapat tercatat dengan baik sebagai upaya untuk melakukan optimalisasi monitoring dan mitigasi gempabumi”, ungkap Imran.

Berikut penjelasan lengkap PMG Muda BBMKG Wilayah IV Makassar, Muh. Imran Tahir Terkait gempabumi di Mamasa

Gempabumi yang menguncang Kabupaten Mamasa  pada  bulan November dan Desember  tahun 2018 dengan intensitas yang tinggi, membuat kepanikan  dan trauma psikologis bagi warga Mamasa dan sekitarnya. Gelombang pengungsian warga Mamasa untuk keluar menjauhi sumber getaran gempabumi juga tidak terhindarkan, sehingga praktis aktifitas perekonomian dan pemerintahan menjadi terganggu.

Peningkatan aktivitas seismik di kabupaten Mamasa, memang mengejutkan banyak pihak karena, wilayah ini secara historis tergolong daerah yang memiliki seismisitas yang rendah (low seismicity). Hasil analisa tim BMKG yang terjun langsung ke lokasi terdampak bencana, memberikan kesimpulan  bahwa gempabumi yang terjadi merupakan gempabumi Swarm yang diakibatkan oleh sesar Saddang.

Sesar Saddang yang berdekatan dengan Kabupaten Mamasa,  disinyalir mendapatkan dorongan atau picuan dari aktifitas sesar Palu Koro yang menyebabkan gempabumi Donggala – Palu dengan kekuatan 7.4 skala magnitudo pada tanggal 28 September 2018 yang lalu.

Gempabumi Swarm merupakan gempabumi yang terjadi secara beruntun dengan frekuensi kejadian yang tinggi. Selain itu gempabumi Swarm tidak memiliki gempa pendahuluan(forceshock, gempa utama (Main Shock) dan gempa susulan (aftershock). Gempabumi swarm di Kabupaten Mamasa ini bisa dikatakan fenomena gempabumi swarm yang pertama kali tercatat dengan baik oleh BMKG dalam kurun waktu 100 tahun terakhir di pulau Sulawesi.

BMKG secara intens terus melakukan monitoring dan analisa gempabumi yang masih terus berlangsung saat ini. Jika pada tahun 2018 sedikitinya tercatat 292 kali gempabumi dirasakan, maka pada tahun 2019 sampai dengan bulan Juni ini telah tercatat 26  kali gempabumi dirasakan. Secara statistik jumlah gempabumi dirasakan terus menurun sebagai indikasi penurunan dan pelepasan energi yang terus berlangsung. Namun demikian kesiapsiagaan terhadap bencana khususnya gempabumi tetap harus ditingkatkan sebagai upaya mitigasi yang terus berkesinambungan.

Mitigasi bencana gempabumi diharapkan akan efektif jika masyarakat perlahan meningkatkan pengetahuan dan budaya sadar bencana di daerah masing-masing dan  mempercayakan informasi bencana dari institusi yang berwenang dalam hal ini BMKG. Bijak dalam memahami informasi bencana menjadi penting untuk menghindari informasi yang keliru dari sumber yang tidak bertanggungjawab yang secara tidak langsung akan menimbulkan bencana baru.

BMKG dan Pemerintah Kabupaten Mamasa  saat ini  sedang berkoordinasi untuk melakukan survey lokasi dan rencana pemasangan sensor gempabumi. Informasi ini sekaligus menjadi berita gembira untuk masyarakat Mamasa karena dari sejumlah sensor gempabumi yang nantinya BMKG akan pasang secara bertahap di tahun 2019 di seluruh Indonesia, Kabupaten Mamasa mendapatkan alokasi pemasangan sensor gempabumi. Hal ini tentu tidak terlepas dari upaya BMKG dan Pemda Mamasa yang terus menjalin komunikasi dan kerjasama dalam upaya peningkatan pelayanan info kebencanaan yang  cepat, tepat, luas dan mudah dipahami oleh masyarakat.

Tim BMKG sejak Rabu 29 Juni 2019 terus melakukan pengukuran dan analisa di beberapa lokasi site survey di bantu oleh personil dari BPBD Kabupaten Mamasa. Survey lokasi atau site survey bertujuan untuk memetakan lokasi pemasangan sensor yang tepat ditinjau dari segi aspek geologi dan seismologinya.

Adapun peralatan yang digunakan untuk survey berupa GPS, TDS,  kompas geologi dan perangkat survey pendukung lainnya.  Pemilihan lokasi sangat penting untuk mendapatkan kualitas data seismik yang baik yang nantinya akan dianalisa menjadi informasi gempabumi yang disebarkan ke masyarakat.

Diharapkan jika proses berlancar sesuai dengan jadwal dan estimasi waktu,  maka kedepan Kabupaten Mamasa akan memiliki 1 unit sensor gempabumi BroadBand yang akan mencatat aktifitas seismik dan gelombang gempabumi dengan baik di kabupaten Mamasa dan sekitarnya.  BMKG juga berharap dan menghimbau peran aktif baik Pemda Mamasa, aparat keamanan dan tentunya segenap masyarakat Mamasa untuk bersama-sama menjaga peralatan yang nantinya akan  terpasang agar terhindar dari aksi pengrusakan dan pencurian.   Selain karena peralatan sensor gempabumi tergolong mahal namun lebih daripada itu data dan informasi yang dihasilkan akan sangat berguna untuk menyelamatkan ratusan bahkan jutaan masyarakat yang terdampak  di mana bencana terjadi. (Leo/MdB)

Yunus Suparlin

Lahir di Sipulung, 02 Januari 1980. Pendidikan, Strata 1 Ilmu Hukum