Wujudkan Peradaban Baru, Rumalowak Nyalakan Obor Pendidikan di Gunung Bati

OLEH : Riaty Abdullah

 

BULA (MALUKU), MEDIARESTORASI.COM –  Bersama para Staf dan sejumlah guru di Kecamatan Kian Darat, Pelaksana Tugas (Plt) kepala dinas pendidikan kebudayaan pemuda dan olahraga kabupaten Seram Bagian Timur, Sidik Rumalowak,  bergegas menuju mobil. Pagi itu mendung dan gerimis menyelimuti pegunungan Bati, sebuah Perkampungan yang berada di pedalaman pulau Seram, tepatnya di Kecamatan Kian Darat, Kabupaten Seram Bagian Timur.

Dengan mengendarai mobil Hilux hitam, Rumalowak menerobos hamparan kabut dan gerimis ditengah kawasan hutan  Bati,   semangat dan senyum nampak terpancar jelas dari raut wajahnya. Kegigihan beliau untuk mewujudkan peradaban baru dalam dunia pendidikan di negeri para raja ini seolah  mendapat dukungan dan penyertaan dari para leluhur.

Detik demi detik mulai berlalu, Tanpa terasa sang jago hilux hitam mulai memasuki perkampungan Bati Kelusy. Perlahan-lahan mobil ini terus menerobos masuk melewati beberapa rumah gantung  yang terbuat dari kayu papan, kemudian berhenti disalah satu rumah yang berada  tak jauh dari Masjid di Dusun kecil ini.

Dengan berkah gerimis  dari langit kampung Bati Kelusy, Rumalowak turun dari mobil dan disambut hangat oleh para pemangku adat.  Seraya mengucapkan salam dan bersalaman Rumalowak beserta  pejuang-pejuang pendidikan dipersilahkan masuk oleh sang pemilik rumah. Rupanya sedari tadi para pemangku adat telah menanti kedatangan mereka.

 

Tak lama kemudian, doa dan ritual adat penyambutan dimulai. Untuk menghargai ritual adat di negeri ini, Rumalowak yang sedari tadi hanya mengenakan kaos oblong putih berlengan pendek,, berdiri bergegas mengambil sebuah kemeja hitam berlengan panjang untuk dikenakan, sembari memakai kopiah berwarna putih, Ia duduk bersila disamping kiri kepala adat Bati Kelusy.

Beberapa pejuang pendidikan juga turut duduk bergabung membentuk lingkaran, yang mana di depan mereka telah disediakan beberapa gelas yang berisi air putih dan rokok tembakau (Amor).  Selain itu, disediakan pula sebuah mangkok keramik putih yang dilapisi piring serta terdapat  sebuah mampan yang berisi dupa, kemenyang dan segelas air, yang diletakkan tepat di hadapan kepala adat.

Seraya mengucapkan kalimat Isti’adzah (kalimat pembuka sebelum membaca doa/Ayat Alqur’an), kepala adat yang juga sebagai imam Masjid Bati Kelusy ini, mulai menaburi kemenyang diatas dupa yang berisi bara api,  kemudian mulai membaca doa.

Doa  terus terucap dari mulut tete (kakek) Dahlan , demikian sapaan untuk kepala adat dusun Bati Kelusy. Tasbih, tahmid dan tahlil terus bergumam dari mulut si kakek, sambil sesekali Ia mengangkat  mangkok putih yang berisi air dan irisan  dedaunan berwarna hijau  maron ke atas dupa, mangkok berisi bahan ritual itu seolah dipanggang diatas asap kemenyang, kemudian diletakkan kembali di atas karpet.  Hal itu dilakukan berulang-ulang hingga tiga kali, sembari sesekali Kakek Dahlan menaburi kemenyang ke dupa.

Irisan daun-daun yang digunakan sebagai bahan ritual itu secara umum dikenal oleh  masyarakat Seram Bagian Timur dengan nama Fakarihi (Penyejuk), sementara masyarakat di kampung Bati menyebutnya dengan nama Fa’alifiya. Meski penyebutan tanaman itu berbeda, namun tujuan pengunaannya sama. Daun-daun yang dominan berwarna maron hijau itu selalu digunakan untuk ritual mendirikan rumah, atau ritual kepada bayi yang pertama kali keluar rumah (turun tanah), karena dipercaya dapat memberikan kesejukan, dan menjauhkan hal-hal buruk dari  seseorang (yang berhajat ). Lebih dari 10 menit berlalu , doa dan ritual adat pun selesai.

Siang itu di perkampungan Bati Kelusy,  mentari seolah ragu menampakkan dirinya, sebab gerimis dan hembusan angin masih terus menari menyambut kedatangan para pencetus obor pendidikan di tanah Bati Kelusy ini. Sementara dari kejauhan para pejuang peradaban pendidikan pun mulai  menyibukkan diri membenahi gubuk kumuh berukuran lebih dari 4×5 meter itu untuk dijadikan sekolah Filial

Sebelum memulai acara ritual pencanangan  sekolah Filial Bati Kelusy, Rumalowak bergegas keluar rumah. Dengan memakai sepasang sandal jepit dan kopiah  putih menghiasi kepalanya,  Ia berjalan menuju bangunan kumuh tak berdinding itu, guna memastikan kesiapan kayu, papan dan bahan lainnya, sebab prosesi adat sekolah SD Negeri 3 Kian Darat  Filial Bati Kelusy akan dimulai.

Tidak berselang lama, Rumalowak, para pemangku adat dan beberapa warga lainnya terlihat duduk berbaris di dalam rumah. Si pemilik rumah kakek Dahlan duduk paling depan didekat pintu, Ia terlihat khusyuk membacakan doa dan sesekali menatap kedepan kemudian kembali menunduk. Suasana seketika menjadi hening, yang terdengar hanya  kicauan burung dari kejauhan, gemuruh angin pun seketika hilang,  sementara gerimis halus terus melambai-lambai bagai butiran salju mewarnai keindahan di pegunungan Bati Kelusy

Bismillahirrahmannirrahim” ucap Kakek Dahlan, kemudian melangkah maju menuruni tangga rumahnya, satu demi satu para pejuang pendidikan sekolah Filial Bati Kelusy  serta pemangku adat yang lain berdiri dan berjalan mengikuti langkah kaki kakek Dahlan. Salah seorang pemangku adat terlihat berjalan sambil membawa mangkok putih yang berisi fakarihi (bahan ritual), mereka berhenti tepat di depan bangunan tak berdinding itu.

Kini di depan mereka telah terbentang di atas tanah sebuah spanduk berukuran 1×2 meter dengan tulisan “SD Negeri 3 Kian Darat, Filial Bati Kelusy”.  Spanduk itu disematkan pada papan kayu, dan memiliki dua tiang sebagai penyangga.   Selain itu ada juga dua galian lubang di tanah  sedalam kurang lebih 50 sentimeter disetiap sisi tiang penyangga. Prosesi adat pun dimulai..

Kakek Dahlan mulai  duduk menunduk sambil memegang  salah satu  tiang. Sembari membaca doa, kakek yang bertubuh tinggi kurus ini mulai  mengambil segenggam bahan ritual fakarihi  dan memasukkannya kedalam salah satu lubang, hal itu dilakukan selama tiga kali.  Kemudian kakek kembali mengambil segenggam fakarihi, sebelum diusap dibagian ujung salah satu tiang,  kakek dahlan dengan khuyuk membaca doa sambil menggenggam fakarihi ditanggannya,, air dari fakarihi itu dibiarkan menetes diatas tiang, setelah beberapa detik barulah diusap pada ujung tiang selama tiga kali, kemudian kepala adat ini berdoa.

Hal yang ama pula dilakukan oleh Rumalowak, dengan segenggam fakarihi, Plt kepala Dinas pendidikan ini, mulai mengesup pada tiang penyangga dan sesekali tangannya sejenak berhenti di ujung tiang. Tiga kali mengulang ritual yang sama, Rumalowak kemudian kembali mengambil segenggam fakarihi dan langsung memasukan ke dalam lubang , Ia langsung berdiri dan mempersilahkan  pemangku adat lain untuk melanjutkan ritual.

Ritual yang dilakukan oleh lelaki parubaya ini nampak berbeda dari ritual yang dilakukan baik oleh kakek Dahlan maupun Rumalowak.  Dengan berdiam diri sejenak, pemangku adat yang juga sebagai modim Masjid ini memasukan tangan kanannya ke dalam dasar galian lubang yang kedua, sambil membaca doa.

Setelah beberapa detik, Ia mengambil segenggam fakarihi dan meletakkan diatas tiang yang berbeda sembari mengusap hingga ujung tiang. Tangan yang masih dipenuhi dengan dedaunan fakarifi ini digenggam erat menempel pada ujung tiang,  tak lama kemudian  ia meletakkan  jari telunjuk diatas tiang seolah sedang bersahadat.

Setelah memanjatkan doa, Ia menyerahkan mangkok yang masih berisi fakarifi itu kepada kepala dusun (kadus) kampung Bati Kelusy. Kepala dusun yang menggunakan kopiah berwarna hitam ini berdoa dan mulai melakukan ritual.

Rumalowak yang sedari tadi memperhatikan ritual itu tiba-tiba berkata , “supaya  besok-besok ana-ana (anak-anak) di sini , dong (mereka) pintar-pintar,  sekolah baik-baik, kelak dong (mereka) akan ganti katorang (kita), bahwa anak dari gunung juga bisa..!!!”. Sontak kakek Dahlan menjawab “Insha Allah… Aamin”.

 

Dengan mengucap bismillahirrahmannirrahim, Allahu akbar, Rumalowak dan para stafnya serta dibantu oleh beberapa guru memegang tiang pencananagan Sekolah Dasar Negeri 3 Kian Darat Filial Bati Kelusy ,

Tancapkan obor peradaban, bahwa membangun pendidikan  atas kesadaran kita bersama  ini adalah kebutuhan. Sebagai penanggung jawah tekhnis  kami mempunyai kewajiban untuk menyalakan  obor-obor pendidikan atas dukungan serta partisipasi masyarakat,  dari gunung bati kami laporkan, kami tancapkan obor pendidikan untuk kabupaten Seram Bagian Timur”. Ucap Rumalowak lirih

Seraya menancapkan tiang,  gema takbir terucap dari mulut para pejuang-pejuang pendidikan, Allahu akbar… Allahu Akbar.. Alllahu Akbar,, ucap mereka

Usai pencanangan tiang sekolah filial Bati Kelusy,,  para relawan pendidikan ini langsung bergegas mengambil segala keperluan untuk mendirikan dinding sekolah. Ada yang memikul papan, sebagian dari mereka mulai memotong papan menggunakan gergaji dan ada pula yang telah bersiap dengan palu dan juga paku.

Semangat mereka membara ditengah hujan yang mulai  lebat, tubuh mereka seolah dirasuki  kekuatan dari jiwa para leluhur  sehingga mereka tak goyah sedikit pun oleh suhu yang begitu dingin di puncak Bati Kelusy.  Kegigihan mereka itulah yang menjadikan mereka  sebagai pahlawan pendidikan, mereka pantas dan sangat pantas memperoleh penghargaan atas perwujudan peradaban pendidikan di daerah yang bertajuk Ita Wotu Nusa ini.

Tak berselang lama,, sebagian dinding  sekolah mulai  tertutup. Tanpa diperintah, seorang pria parubaya, yang diketahui adalah kepala Sekolah SMP Kian Darat,  bergegas mengambil cat tembok. Cat tembok bermerek nippon paint vinilex  dengan warna Turquoise blue ini mulai dibuka. Dengan dibantu salah seorang teman gurunya, mereka mulai melakukan pengecetan di dinding-dinding sekolah.

Semangat kerja dari para pejuang pendidikan ini seolah  tak pernah habis,, terlebih lagi Rumalowak. Kecintaan beliau (Sidik Rumalowak,S.Pd)  terhadap dunia pendidikan rupanya tidak sekedar berkorbar saat Ia ditetapkan sebagai pelaksana tugas di dinas pendidikan kebudayaan pemuda dan olahraga kabupaten Seram Bagian Timur.  Namun,  sepertinya telah tertanam dan mendarah daging dalam dirinya semenjak dahulu, hal itu terlihat dari gelar pendidikan yang Ia peroleh, yakni Sarjana Pendidikan

Rumalowak tanpa sungkan mengambil palu dan paku untuk membantu memaku papan kayu. Semangat yang yang terpancar dari dirinya memberikan energy positif kepada para guru dan pejuang pendidikan lainnya.

Dua tiga jam berlalu, setengah dari dinding sekolah Filial Bati Kelusy ini mulai tertutup dan berwarna. Bangunan  kumuh yang tadinya hanya berupa tiang dan rangka penopang atap ini sekarang telah di sulap menjadi  sebuah bangunan sekolah Filial yang indah.

Disisi lain, desiran angin mulai menebar aroma masakan hingga mulai menganggu penciuman  para pahlawan pendidikan ini. Perut mereka terus berdering seolah memberikan isyarat agar diperhatikan. Dan benar adanya, tak lama kemudian kakek Dahlan datang, dan menyuruh mereka untuk  beristirahat  sejenak sambil  menyantap makan siang.

Dari dalam rumah papan yang sangat sederhana, Isteri dari Kakek Dahlan telah menyediakan makanan. menu makanan yang disedikan bukan daging atau sup ayam, melainkan hanya nasi dan mie instan. Kendati demikan, Rumalowak dan para relawan pendidikan lainnya nampak  senang dan lahap menyantap hidangan itu.

Bagi mereka kebahagian bukan terletak pada menu makanan mewah atau mahal, namun kebersamaan, empati, rasa cinta dan sayang serta semangat mereka terhadap dunia pendidikan yang membuat suasana makan siang itu menjadi mewah, lezat dan berkelas.

Siapapun yang melihat perjuangan dan semangat mereka tentu akan terharu, bahkan cuaca di gunung Bati Kelusy pun seakan bersedih melihat perjuangan mereka.

Selesai menyantap makan siang, sebagian dari mereka menyulut rokok sambil beristirahat sejenak, sebagian lainnya bergegas menuju bangunan sekolah. Dua tiga jam kembali berlalu, bangunan sekolah Filial Bati Kelusy kini telah rampung.

Dari kejauhan telah berdiri kokoh sebuah banguan sekolah yang terbuat dari papan kayu. Cahaya biru tosca pada Sekolah filial ini mulai menghiasi pemukiman Bati Kelusy, laksana Seba Oasis ditengah gurun sahara yang siap memuaskan  dahaga pendidikan para siswa di dusun ini.

Rumalowak yang tengah duduk di depan rumah kakek Dahlan, terus menatap sekolah Filial itu seraya tersenyum, ada rasa kebahagian terpancar dari wajahnya. Makna dari senyuman itu begitu mendalam, Ia membayangkan 25 orang siswa kelas 1,2 dan kelas 3 yang tak lama lagi akan bersekolah di sekolah Filial itu.

Dengan ditemani  kakek Dahlan, Ia (Sidik Rumalowak) berharap keindahan sekolah ini dapat menjadi sumber kebahagiaan dan  muara lahirnya orang-orang sukses, agar dapat memajukan daerah ini dimasa yang akan datang.

Kakek Dahlan pun nampak terharu, tanpa terasa butiran air mati membasahi pipinya yang keriput. Menyadari kakek Dahlan menitikkan air mat, Rumalowak bertanya “kenapa tete (kakek) menangis??”,

Dengan terbata-bata kakek Dahlan menjawab, “katong (kita) berterima kasih, rasa senang karena sudah ada sekolah”. Mendengar jawaban itu Rumalowak pun tersenyum.

Jam kini telah menunjukkan pukul 18.45 WIT, nyanyian burung semakin riuh menandakan hari mulai gelap. Mobil hilux hitam kini mulai meninggalkan perkampungan Bati Kelusy, melaju menerobos jalanan hutan Bati menuju Kota Kabupaten. Di dalam mobil, Rumalowak  tersenyum puas,  karena  obor pendidikan kini telah berkobar di pegunungan Bati Kabupaten Seram Bagian Timur.

 

(By. Riaty Abdullah)

mediarestorasi

Bergerak Bersama Membangun Bangsa