Pidato Kebangsaan Prabowo: Menyerang Lumbung Suara Jokowi

JAKARTA, MEDIARESTORASI.COM — Berkemeja putih, berbalut jas, berpeci hitam, berdasi merah. Intonasi bicaranya berat, rapat, dan kerap terdengar serak. Di belakangnya, sebuah layar besar menyala terang menampilkan sari ucapan. Itulah gaya Prabowo Subianto, calon presiden nomor urut 02 saat memberikan Pidato Kebangsaan di Jakarta Convention Center, Senin malam kemarin.

Gaya Prabowo malam itu bisa dibandingkan dari cara berkampanyenya empat tahun lalu. Pada Maret 2014, Prabowo tampil dalam kampanye pengumpulan massa di Stadion Gelora Bung Karno, satu bulan sebelum Pemilu legislatif.

Soal intonasi bicara, gaya Prabowo dalam Pidato Kebangsaan dan pidato dia sebelumnya tidak berbeda. Bicaranya berapi-api, tangannya tanpa henti mengayun, mengikuti tiap kalimat yang terlontar.

Di GBK, Prabowo mengenakan baju safari putih, berpeci hitam, sepatu boot cokelat tua, menyelipkan keris di pinggang. Yang paling ikonik: ia memasuki stadion dengan menunggang kuda. Saat berpidato, ia menggunakan mikrofon old style. Karena tampilannya itu, politikus Amien Rais menyebut Prabowo mirip Sukarno.

Tapi, di JCC kemarin, Prabowo mengenakan jas. Ia tampil di ruangan tertutup; bukan stadion terbuka. Tidak ada lagi adegan ikonik. Soal pakaian dan desain panggung, Prabowo-yang-dulu bukanlah Prabowo-yang-sekarang. Desain panggung serupa pernah dipakai untuk Prabowo saat mengumpulkan kader Gerindra, November 2018.

Saat berpidato, Prabowo dibantu telepromter, layar presentasi, dan tidak lagi menggunakan mikrofon old style.

Gaya pidato dengan layar presentasi semacam itu di dunia politik Indonesia dipopulerkan Jokowi saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012.

Prabowo jelas mengubah gayanya. Termasuk cara dia menceritakan permasalahan di negeri ini. Prabowo menyitir kisah-kisah individu untuk menggambarkan hal itu.

Pertama, dia menyampaikan kisah bunuh diri Hardi, seorang buruh tani di Grobogan, Jawa Tengah.

“Saya mendapat laporan. Seorang buruh tani. Seorang bapak. Seorang kepala keluarga. Namanya Hardi di Desa Grobogan, Jawa Tengah, meninggal dunia karena gantung diri di pohon jati di belakang rumahnya. Almarhum gantung diri, meninggalkan istri dan anak karena merasa tidak sanggup membayar utang; karena beban ekonomi dirasa terlalu berat,” kata Prabowo.

Bukan cuma bunuh diri Hardi yang diceritakan Prabowo. Dia juga menyampaikan cerita gantung diri seorang guru di Pekalongan (Jawa Tengah) dan Desa Watu Sigar, Gunung Kidul (Yogyakarta).

“Saya juga baru datang dari Klaten. Di situ, petani-petani beras bersedih karena saat mereka panen yang lalu, banjir beras dari luar negeri. Saya juga baru-baru ini dari Jawa Timur. Di sana, banyak petani tebu yang bersedih karena saat mereka panen, banjir gula dari luar negeri,” tambahnya.

Dia meniru cara Sandiaga Uno, calon wakil presiden pendampingnya, kala tampil di Debat Pilgub DKI Jakarta 2017. Di debat perdana, Sandiaga mengungkapkan kelemahan kebijakan pemerintah DKI Jakarta yang dipimpin pasangan petahana (Ahok-Djarot) dalam menangani ketimpangan ekonomi warga dengan menceritakan kembali keluhan warga yang dia temui saat kampanye.

“Yang usaha besar makin besar, yang usaha kecil makin terpuruk. Nah, di sini saya melihat Ibu Nurhayati di Bukit Duri. Dia tadinya berjualan nasi uduk 12 liter sehari. Tapi, karena kebijakan dari Pemprov sekarang yang tidak memastikan lahan usaha, tidak memberikan permodalan, tidak memberikan pendampingan. Akhirnya, dia harus terus menerus tergerus usahanya,” kata Sandiaga saat itu.

Melihat latar belakang alamat Nur Hayati, Bukit Duri, Sandiaga tentu tidak asal comot. Sejumlah warga di Bukit Duri digusur petahana pada 2016. Penggusuran itu menuai kontra.

Camat Tebet mengeluarkan surat pemberitahuan dua kali agar warga membongkar bangunannya, 18 dan 28 Desember 2015. Menolak kebijakan pemerintah DKI Jakarta, warga menggugat SP Camat Tebet di Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta. Namun, selagi proses hukum di PTUN itu, pemerintah DKI Jakarta menggusur rumah mereka.

Sementara itu, sebagian besar daerah yang disebut Prabowo dalam Pidato Kebangsaan berada di Jawa Tengah (Grobogan, Pekalongan, Klaten). Dua lainnya di Jawa Timur dan Yogyakarta.

Jawa Tengah dikenal “kandang banteng”, wilayah basis massa PDIP. Pada Pilpres 2014, suara yang diperoleh Jokowi hampir dua kali lipat lebih besar ketimbang suara yang digaet Prabowo.

Lewat ceritanya itu, Prabowo menyampaikan secara tersirat bahwa korban dampak kebijakan (impor pangan dan gaji guru) era Jokowi justru ada di wilayah basis massanya: Jawa Tengah.

Apa yang tersirat itu kembali terdengar ketika Prabowo menyinggung buruknya ketersediaan air bersih di Indonesia. Daerah yang diambil Prabowo sebagai contoh adalah Sragen.

“Di Sragen”, Prabowo menghentikan kalimatnya sejenak, “Di Sragen, satu jam dari Kota Solo, rakyat kesulitan air. Mereka menyampaikan kepada saya, tim kita di situ: enggak usah kirim kaos, enggak usah kirim baliho, tolong kirim tangki-tanki air.”

Bukan Sragen yang menarik, tapi Solo atau Surakarta, kota kelahiran Jokowi. Kota ini dipimpin Jokowi selama dua periode. Solo menjadi portofolio keberhasilan Jokowi ketika ia mencalonkan diri sebagai kandidat di Pilgub DKI Jakarta 2012 dan Pilpres 2014.

Baca juga:

 

Infografik Pidato Kebangsaan Prabowo
Infografik Pidato Kebangsaan Prabowo

 

Mencairnya Relasi Prabowo-Sandiaga dengan Cikeas

Selain menggambarkan perubahan gaya Prabowo, Pidato Kebangsaan menyiratkan hal lain: relasi Prabowo-Sandiaga dengan Susilo Bambang Yudhoyono plus Demokrat.

Yang mengusulkan Prabowo menghelat Pidato kebangsaan adalah Ketua Umum Demokrat SBY. Itu diadakan sekaligus untuk memberitahukan kepada publik mengenai perubahan visi-misi Prabowo-Sandiaga.

Empat hari sebelumnya, Komisi Pemilihan Umum menolak perubahan visi-misi yang diajukan Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga. Acara semacam itu, tepatnya Orasi Kebangsaan Agus Harimurti Yudhoyono (sulung SBY), juga pernah digelar Demokrat pada Maret 2018.

SBY hadir dalam acara Pidato Kebangsaan Prabowo. Ini merupakan kehadiran pertama SBY dalam kampanye Prabowo-Sandiaga.

Kehadiran SBY dibalas manis. Dalam pidatonya, baik Prabowo dan Sandiaga, menjadikan SBY sebagai orang pertama yang diberi salam penghormatan. Prabowo menyebut SBY sebagai “senior, guru, dan mentor.” Dia juga disebut Prabowo sebagai “senior kami yang telah berhasil memimpin negara ini 10 tahun”.

Sejak penetapan capres-cawapres, SBY dan Prabowo baru bertemu dua kali, September dan Desember 2018. Di antara dua pertemuan itu, relasi SBY-Demokrat dan Prabowo-Sandiaga kerap tegang.

Politikus Demokrat Andi Arief sempat menyinggung Prabowo tidak serius jadi capres. SBY pun disebut menyindir Prabowo secara halus lewat cuitannya, “Capres mesti miliki narasi dan gaya kampanye yang tepat.” Kader Demokrat di sejumlah daerah mendukung Jokowi.

SBY dan Demokrat juga dinilai pihak Gerindra ogah mengampanyekan Prabowo-Sandiaga. Sementara AHY berkata Prabowo-Sandiaga tidak memberi coattail effectuntuk Demokrat.

Ketegangan itu menjadi cair saat SBY mengatakan sesaat setelah pertemuannya dengan Prabowo pada Desember 2018 bahwa dia akan menerapkan strategi “Double Track”: mendukung Prabowo, menangkan Demokrat.

Pidato Kebangsaan adalah gambaran teranyar dari mencairnya relasi Prabowo-Sandiaga dengan Cikeas. (DHIMPUN/JAY)

Bagikan:

mediarestorasi

Bergerak Bersama Membangun Bangsa