Peringati Hari Sumpah Pemuda, Mahasiswa Nyaris Bentrok.

Gorontalo, MediaRestorasi.com – sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Gerakan Mahasiswa Peduli Atas Rakyat (GEMPAR) dan Kesatuan Pemuda Indonesia Gorontalo (KPI-G) memperingati hari  sumpah pemuda nyaris bentrok dengan aparat Kepolisian di depan Kampus Universitas Negeri Gorontalo senin 29 Oktober 2018.

Aksi yang sebelumnya dilakukan oleh Paguyuban Kesatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia Parigi Moutong (KPMIPM) dan Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND)

Aksi yang sebelumnya dilakukan oleh Paguyuban Kesatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia Parigi Moutong (KPMIPM) dan Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND) yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Mahasiswa Peduli Atas Rakyat (GEMPAR) di Bundaran HI berjalan aman dan tertib. Sehingga, setelah menyampaikan orasinya mahasiswa dari Aliansi GEMPAR tersebut berpindah pada titik aksi yang kedua yakni di depan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang kebetulan juga di titik aksi tersebut sudah ada sejumlah mahasiswa dari organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND) dan Himpunan Maluku Utara yang tergabung dalam Aliansi Kesatuan Pemuda Indonesia Gorontalo (KPI-G) yang juga memperingati hari Sumpah Pemuda.

Saat seluruh aliansi bergabung dan menyampaikan aspirasinya, kedua aliansi tersebut melakukan pembakaran ban bekas yang sontak mendapat larangan dari aparat kepolisian yang sedang berjaga.

Meski sempat dihalangi oleh petugas kepolisian namun aksi pembakaran ban bekas tersebut tetap dilakukan setelah beberapa orang perwakilan mahasiswa melakukan negosiasi.

Dalam aksinya, mahasiswa menuntut tolak pembungkaman demokrasi dalam kampus, wujudkan pendidikan gratis ilmiah dan demokratis, ganti haluan ekonomi, lawan neoliberalisme dan kolonialisme, cabut skorsing massal di fakultas ekonomi serta pecat birokrasi kampus yang sewenang-wenang di UNG serta tolak dan lawan segala kebijakan pertemuan IMF-WB yang tidak pro rakyat.

Menurut Fatimatuzzahra selaku korlap bahwa “aksi ini di lakukan untuk menyadarkan pentingnya eksistensi mahasiswa sebab gerakan mahasiswa sudah mati. Hanya berdasarkan momentum-momentum saja”.

“Jadi melalui kesempatan kali ini kita sadarkan bahwa perlunya kontribusi peran khusunya mengawal demokrasi kedepan dan ikut berkontribusi untuk pembangunan nasional”.

Fatimah pun menambahkan bahwa gerakan ini jangan hanya berhenti pada saat kita melakukan aksi-aksi besar atau moment-moment tertentu saja. Isu-isu inipun usahakan bisa dibicarakan atau di dengarkan di ruang-ruang aspirasi khususnya diruang internal DPR. Tutupnya. (Hamdi)

Bagikan:

mediarestorasi

Bergerak Bersama Membangun Bangsa